Anak Anda Takut Sekolah ?


Anak Anda takut sekolah?Tak seperti hari sebelumnya, hari itu sang surya bersinar cerah menghangatkan suasana pagi. Beberapa anak murid TK  A bergerombol dan saling bercerita, ada sebagian lainnya masih mengantuk dan memilih duduk sendiri.

Ketika bel tanda masuk sekolah berbunyi, anak-anak menuju ke depan kelas diikuti oleh gurunya masing-masing. Kami melakukan beberapa persiapan kecil untuk berbaris, menyapa anak-anak dengan ramah serta melakukan olah raga ringan. Anak-anak mengikuti aktivitas pagi itu dengan gembira dan antusias. Tapi tunggu dulu, sepertinya saya kehilangan satu anak yang belum hadir. Oya, Rori belum terlihat pagi itu.

Setelah beberapa lama, melalui sudut mata saya melihah Rori muncul di gerbang sekolah digandeng mamanya. Dia menyembunyikan wajahnya dibalik punggung mamanya. Wajahnya tampak murung dan membersitkan aura ketakutan. Saya bertanya-tanya di dalam hati, “Ada apa dengan Rori?” Sepertinya dia baik-baik saja kemarin. Kemana Rori yang selama ini periang dan semangat ? Sepertinya tak ada masalah dengannya selama ini, baik dengan teman maupun dengan kami, ibu guru kelasnya.

“Maaf bu, Rori tidak mau sekolah, ini saya paksa biar Ia mau…!” ungkap Ibu Mona, ibunda Rori.
“Halo Rori, selamat pagi… kenapa kamu nggak mau sekolah ? Kemarin kamu sudah pintar dan mau bermain dengan teman-teman sekelasmu? Ada apa sayang…” demikian jawabku memulai percakapan.

Tanpa menunggu jawaban, ibu Mona menambahkan bahwa Rori takut masuk sekolah karena kemarin disuruh memimpin doa di depan kelas. Malu kalau di tertawakan oleh teman-temannya.

“Aduh, Ibu guru minta maaf ya Rori, kalau kamu belum berani nggak papa. Kalau tiba giliran Rori memimpin doa, biar digantikan oleh teman-teman yang lain. Nah, sekarang masuk yuk, teman-teman sudah menunggu lho” demikian ajakku sampil menggenggam erat tangannya dan tersenyum kepada ibu Mona. Rori tampak mulai tersenyum dan ibu Mona pun secara perlahan menyerahkan Rori kepadaku. Secara perlahan Rori melangkah menuju teman-temannya seraya melepaskan pegangan tangannya dari ibu Mona.

Hari itu telah dilewatkan Rori dengan ceria seperti hari-hari sebelumnya seakan ketakutan dipagi hari itu tak pernah terjadi. dengan kegembiraan Rori beraktivitas dengan gembira,senang dan ceria sekali.

Kejadian di atas bukan merupakan peristiwa yang langka. Hal ini kerap dialami oleh anak2 seusia Rori. Ketakutan, tidak percaya diri,malu jika diejek teman maupun rendah diri merupakan hal yang lumrah dirasakan. Mereka sedang dalam berproses untuk mengenai diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Mereka cenderung untuk meniru dari apa yang mereka lihat, dengar maupun rasakan. Rasa takut dan malu merupakan reaksi spontan mereka atas apa yang mereka alami. Hal ini merupakan proses yang wajar yang tidak perlu dikhawatirkan. Rasa takut, malu dan kurang percaya diri adalah kharakter dasar manusia yang sebenarnya.
Mereka hanya butuh dukungan,dorongan,pujian yang sesuai dengan perkembangannya. Banyak cara untuk mencoba membangkitkan kembali kepercayaan anak-anak seusia seperti Rori.

Biarkan anak terbiasa dengan menerima ejekan dari teman karena hal itu merupakan salah satu stimulus eksternal yang akan mengembangkan kepribadian anak. Kita perlu meluruskan pikiran anak-anak bahwa mengejek adalah hal negatif melalui penjelasan kongkrit yang dimengerti karena pada saatnya anak dituntut mampu untuk mengelola ejekan menjadi sesuatu yang positif. Hal yang lebih penting dilakukan adalah mencoba menggali perasaan anak jika perasaan negatf itu muncul. Dengan ini diharapkan agar anak belajar terbuka dan mengungkapkan perasaannya dan pada saat bersamaan melepaskan perasaan negatifnya.

Kemapuan anak untuk bersimpati dan empati perlu dibimbing dan dilatih secara berkesinambungan oleh orang tua dan pendidik. Perasaan malu karena diejek oleh temannya adalah salah satu bentuk emosi yang wajar ketika harga dirinya merasa terganggu atau sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi pada dirinya. Anak usia TK sudah mulai menangkap ekspresi emosi orang lain. Ia belajar mengenal emosi dan ekspresi emosi meskipun mereka belum terampil untuk mengungkapkannya kepada orang lain.Orangtua dan pendidik wajib menjalin hubungan kepada anak untuk mengetahui memahami,mengekspresikan dan belajar mengelola emosi perasaannya. Sosialisasi dimana anak belajar untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma yang ada, termasuk dengan lingkungan keluarga,sekolah dan lingkungan lain yang akan ditemui si anak dimanapun juga. Maka, ayo ajak anak-anak kita untuk selalu berani mengungkapkan apa yang menjadi persaannya asalakan kita dukung untuk dapat tercapai keinginan itu. 

Penulis  :  (CKA-APW)

Comments

test by webmaster

Serpong Newsletter


Back to top